Menyerahkan Data dan Menunggu
Sebagai tanggapan, kami bekerja semalaman suntuk untuk menyusun data, membuktikan bahwa setiap transaksi dapat dilacak dan setiap peser pun dapat dipertanggungjawabkan, hingga dua angka di belakang koma. Kami menyerahkan data ini langsung kepada si penuduh agar ia dan timnya dapat memeriksa dan membuktikannya sendiri. Dan sekarang, kami menunggu—dalam keheningan dan ketenangan bersama Tuhan.
Dalam masa penantian ini, kami berduka, kami merasa marah, dan kami bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin ada orang yang tega melakukan ini kepada orang yang jujur?” Namun, Tuhan menghibur kami di setiap helaan napas. Di satu momen kesedihan yang mendalam, saya berdoa, “Tuhan, berikanlah kami penghiburan—penghiburan apa saja pun jadilah.” Sungguh luar biasa, dalam waktu kurang dari satu jam, sebuah kabar baik datang. Tuhan benar-benar dekat dengan mereka yang patah hati.
Keheningan Zakharia
Renungkanlah saat malaikat agung Gabriel mengunjungi Zakharia. Malaikat itu membawa kabar indah dari Tuhan: bahwa doa mereka yang sudah sekian lama untuk memiliki anak akhirnya dikabulkan. Namun, alih-alih menaikkan pujian, Zakharia justru meragukan pembawa pesan itu dan meminta tanda. Ia memang mendapatkan sebuah tanda, tetapi dengan sebuah ketetapan yang tajam—ia dibuat menjadi bisu sampai hari anaknya dilahirkan.
Tuhan tidak mendisiplinkan kita secara asal-asalan; kebisuan Zakharia memiliki tujuan yang sangat mendalam. Daripada membiarkan Zakharia menyebarkan keraguan dan kecemasannya kepada orang-orang di sekitarnya, Tuhan memaksa dia untuk masuk ke dalam keheningan dan perenungan. Melihat perut istrinya yang kian membesar dengan kehidupan baru minggu demi minggu, pastilah membawa keyakinan mutlak bahwa sebuah mukjizat sedang terjadi dalam hidup mereka.
Menanti dan Menyaksikan
Terkadang, Tuhan mengizinkan kita mengalami musim-musim sulit yang penuh keheningan yang dipaksakan—seperti kebisuan Zakharia—bukan untuk menghukum kita, tetapi untuk memaksa kita diam menanti dan menyaksikan karya mukjizat-Nya tergenapi tepat di depan mata kita.
Jadi, bagi siapa pun yang sedang patah hati saat ini: marilah kita datang ke hadirat Tuhan dan berdoa, agar kehendak-Nya jadilah, di bumi seperti di surga.

