Terdengar konyol, bukan? Kalau sudah lunas, ya sudah selesai.
Menawarkan “uang jaminan” justru menghina pembayaran yang sudah dilakukan. Itu artinya teman kita tidak percaya bahwa struk di tangan kita itu sah.
Status yang Sempurna
Banyak dari kita menjalani hidup kekristenan dengan mentalitas “uang jaminan” ini. Kita tahu Yesus sudah mati di kayu salib, tapi kita masih merasa harus “menambah” sesuatu—entah itu lewat perbuatan baik yang dipaksakan atau rasa takut yang berlebihan—supaya Tuhan benar-benar menerima kita.
Ibrani 10:14 dengan tegas mengatakan bahwa oleh satu korban (darah-Nya), Ia telah membuat kita yang sedang dikuduskan sempurna selama-lamanya.
Perhatikan dua kata kuncinya:
Sempurna: Ini bicara tentang status hukum kita di hadapan Tuhan. Di mata Sang Hakim, tidak ada lagi cacat atau cela pada kita.
Selama-lamanya: Ini bukan keselamatan yang bisa hilang-timbul. Pembayarannya berlaku permanen.
Hidup Tanpa Rasa Takut
Ketakutan terbesar manusia biasanya adalah: “Apakah saya cukup baik untuk berdiri di hadapan Tuhan yang Maha Kudus?”
Jawabannya: Tidak, kita tidak akan pernah cukup baik.
Tapi kabar baiknya adalah kepercayaan diri kita tidak datang dari apa yang kita lakukan, melainkan dari apa yang telah Ia selesaikan. Yesus tidak memberikan “uang muka” untuk keselamatan kita; Ia melunasinya. Struk pembayaran Anda sudah dicap LUNAS dengan darah-Nya.
Jadi, berhentilah mencoba membayar apa yang sudah dibayar. Berdirilah dengan tegak, bukan karena kehebatan kita, tapi karena kesempurnaan pengorbanan-Nya.
Doa Singkat
Tuhan, terima kasih karena di dalam Yesus, statusku telah dibuat sempurna selama-lamanya. Ajarku untuk melangkah dengan percaya diri dan tanpa rasa takut, karena aku tahu bahwa hutang dosaku telah dibayar lunas. Amin.

