Kacamatanya Tuhan
Kembali
Seorang berjalan dari tanah berdebu menuju lembah hijau yang diterangi matahari terbit

RENUNGAN NO. 35 PANGGILAN & BUAH KEHIDUPAN

Menjadi Makhluk yang Hidup

Kejadian 2:7 tidak sedang memberi formula kimia tubuh manusia, melainkan menyatakan bahwa kita berasal dari debu dan menerima hidup, martabat, serta tujuan sebagai pemberian Tuhan.

Keluarga Tuhan, Alkitab dan ilmu pengetahuan sering kali dianggap berada di dua kubu yang saling bertentangan. Padahal, keduanya bersumber dari Pencipta yang sama. Jika tampak ada benturan, pilihannya hanya dua: mungkin kita yang keliru memahami Firman Tuhan yang tertulis, atau ilmu pengetahuan kita yang memang belum “sampai” pada kedalaman hal-hal yang Tuhan nyatakan.

Salah satu contoh yang sering diperdebatkan adalah frasa dalam Kejadian 2:7. Terjemahan yang biasa kita dengar berbunyi: “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah.”

01

Manusia, Debu dari Tanah

Sudut pandang sains yang skeptis terkadang mencibir ayat ini, karena secara biologis dan kimiawi, komponen pembentuk tubuh manusia tentu jauh lebih kompleks daripada sekadar butiran debu tanah. Namun, tahukah Anda bagaimana struktur teks asli Ibraninya?

Teks aslinya tidak menggunakan kata depan “dari”. Terjemahan yang lebih presisi secara literal adalah:

“Tuhan Allah membentuk manusia, [yaitu] debu dari tanah…”

Lewat konstruksi kalimat ini, Tuhan sebenarnya tidak sedang berbicara tentang formula kimia tubuh manusia. Tuhan sedang menyatakan status dan esensi eksistensi kita. Di hadapan kemegahan alam semesta, manusia itu pada dirinya sendiri hanyalah rapuh, fana, dan tidak signifikan—seperti debu yang ditiup angin langsung hilang. Tanpa Tuhan, hidup kita tidak memiliki nilai intrinsik yang kekal.

02

Neshama dan Nefesh Chayah

Titik baliknya terjadi ketika Tuhan mengembuskan Neshama—nafas hidup-Nya sendiri—ke dalam lubang hidung manusia. Barulah setelah kita menerima Roh Allah yang menghidupkan, status kita berubah total: kita menjadi Nefesh Chayah, makhluk yang hidup.

Keluarga Tuhan, ada sebuah kebenaran yang radikal di sini: hidup tanpa tujuan bukanlah hidup yang sesungguhnya; itu hanyalah proses menunggu mati.

03

Tidak Sekadar Ada

Demikian pula secara rohani. Hidup tanpa melekat pada Sang Sumber Nafas, dan hidup tanpa melakukan tugas atau tujuan yang telah Dia tetapkan, esensinya sama dengan hidup yang mati. Kita mungkin bergerak, bernafas secara biologis, dan sibuk bekerja, tetapi di mata kekekalan, kita tetaplah seonggok debu yang tak bermakna.

04

Hidup dalam Tujuan Tuhan

Hari ini, mari kita merenung. Sudahkah kita menemukan dan menghidupi tujuan yang Tuhan berikan bagi hidup kita?

Marilah kita berkomitmen untuk tidak sekadar “ada” di dunia ini. Jadilah makhluk yang benar-benar hidup karena hembusan nafas Tuhan—nafas yang telah mengubah kita dari sekadar debu tanah yang fana, menjadi pembawa gambar dan rupa Allah yang bergerak dalam tujuan-Nya yang mulia.

Tuhan Yesus memberkati.

“Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu, debu dari tanah, dan mengembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”

Kejadian 2:7 (Perspektif Teks Asli)

LANJUTKAN PERJALANAN

Temukan renungan lain untuk langkah hidupmu.

Kembali ke semua renungan