Kacamatanya Tuhan
Kembali
Dua orang berjalan dan berbincang bersama di sebuah kampus Seoul ketika dua jalur bertemu menjadi satu

RENUNGAN NO. 39 PENYERTAAN & RENCANA TUHAN

Memang Sudah Ditakdirkan

Ada pertemuan yang awalnya tampak biasa, tetapi ketika kita menoleh ke belakang, kita menyadari bahwa Tuhan telah menenun setiap langkahnya.

Ada pertemuan-pertemuan yang pada awalnya tampak biasa saja.

Namun ketika kita menoleh ke belakang, barulah kita menyadari bahwa sejak awal Tuhan sudah menenun setiap langkahnya.

01

Sebuah Pertemuan yang Tampak Biasa

Hari itu kami sedang mengunjungi sebuah universitas di Seoul. Tujuan kami sederhana: mengikuti tur kampus. Namun kami tidak dapat menemukan kantor yang kami cari. Akhirnya kami memberanikan diri bertanya kepada seorang mahasiswi yang sedang melintas.

Alih-alih hanya menunjukkan arah, ia tersenyum dan menawarkan diri untuk mengantar kami.

Sesampainya di sana, ternyata petugas yang biasa menemani tur sedang tidak berada di tempat. Dengan penuh semangat, mahasiswi jurusan Biologi itu berkata bahwa ia bersedia menggantikan dan mengajak kami berkeliling kampus.

Sepanjang perjalanan, percakapan kami mengalir begitu saja.

Di tengah obrolan, ia mengucapkan sesuatu yang membuat saya berhenti sejenak.

Semakin saya belajar Biologi, semakin saya yakin bahwa pasti ada Sang Pencipta.

Kalimat itu terasa seperti sebuah pintu yang Tuhan bukakan.

02

Dua “Buku” dari Tuhan

Saya pun bercerita bahwa Tuhan memberikan kepada manusia dua “buku”.

Yang pertama adalah buku alam. Melalui ciptaan-Nya, melalui keteraturan, keindahan, dan hukum-hukum alam yang dipelajari sains, manusia dapat mengenal bahwa alam semesta ini tidak mungkin hadir dengan sendirinya. Setiap penemuan, pada akhirnya, sedang menunjuk kepada Sang Perancang Agung.

Namun Tuhan tidak berhenti sampai di sana.

Ia juga memberikan buku kedua—Firman-Nya yang tertulis, Alkitab.

Buku alam memperkenalkan bahwa ada Pencipta.

Tetapi Alkitab memperkenalkan siapakah Sang Pencipta itu. Di sanalah kita mengenal kasih-Nya, kesetiaan-Nya, rencana-Nya, dan undangan-Nya agar setiap manusia kembali kepada-Nya.

Percakapan kami pun menjadi semakin hangat.

03

Iman yang Perlahan Menjadi Identitas

Lalu ia membuka sebuah kisah yang cukup menyentuh hati.

Keluarganya dahulu adalah keluarga Kristen. Namun sejak sang nenek meninggal dunia, perlahan semangat mereka memudar. Iman yang dahulu hidup, lambat laun hanya menjadi sebuah identitas keluarga.

Saat perpisahan tiba, ia tersenyum, lalu mengucapkan sebuah kalimat sederhana.

Memang sudah ditakdirkan.

Saya mengangguk pelan.

Ya… memang sudah ditakdirkan.

04

Bukan Kebetulan

Bukan karena kebetulan mempertemukan kami.

Melainkan karena ada Tangan yang sejak semula telah menyusun setiap langkah, setiap percakapan, bahkan setiap jalan yang tampaknya tersesat.

Hari itu kami datang mencari kantor.

Namun Tuhan ternyata sedang mempertemukan dua orang yang sama-sama sedang berjalan di jalan yang telah Ia tetapkan.

Dan terkadang, baru setelah perjalanan itu usai, kita menyadari…

bahwa sejak awal,

memang sudah ditakdirkan.

LANJUTKAN PERJALANAN

Temukan renungan lain untuk langkah hidupmu.

Kembali ke semua renungan