Namun Yesus tidak menjawab mereka dengan satu jawaban yang sama.
Ia melihat hati. Ia menguji motivasi. Ia tahu siapa yang datang untuk belajar, dan siapa yang datang untuk membenarkan diri.
Karena bagi orang yang penuh keyakinan diri, hukum hanya akan menjadi cermin yang mempermalukan.
Hukum bukan untuk membanggakan diri.
Hukum ada supaya kita sadar:
“Aku berdosa, aku buta, dan aku butuh belas kasihan Tuhan.”
Lihat Daud, lihat pemungut cukai, lihat Bartimeus yang berteriak:
“Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”
Mereka tidak membawa daftar prestasi.
Mereka membawa pengakuan akan kebutuhan.
Pertanyaan untuk Hatimu
Dan sekarang izinkan saya bertanya kepada Anda:
Apa yang paling Anda takutkan?
Menjadi orang yang buta oleh kesombongan?
Terbelah oleh berhala dalam hati?
Atau sibuk mengejar roti dunia sampai lupa roti hidup?
Seorang yang berkata,
“Aku takut semuanya, karena aku tahu hatiku lemah dan mudah goyah”
adalah seseorang yang aromanya harum di hadapan Tuhan.
Karena
Orang yang percaya pada kekuatan hatinya sendiri, sudah kalah.
Orang yang tidak percaya hatinya, akan berpegang pada Tuhan, dan aman.
Tuhan Yesus tidak pernah mengharapkan kita kuat.
Ia hanya meminta kita melekat pada-Nya.
Kelemahan bukan masalah.
Kita ini debu.
Masalahnya ketika kita lupa bahwa kita lemah… dan mulai merasa bisa berlari tanpa-Nya.
Mari Berdoa Bersama
Bapa, dekatkan hatiku kepada-Mu.
Tanpa-Mu aku tersesat.
Pegang aku, sebab aku tidak mampu menjaga diriku sendiri.
Jadikan kelemahanku tempat kekuatan-Mu dinyatakan.
Sebab hati yang gemetar di hadapan Allah lebih aman daripada hati yang sombong dan merasa mampu.
Tetaplah kecil di hadapan-Nya,
dan engkau akan berjalan besar dalam kasih karunia-Nya.

