Akar Persoalan di Eden
Namun jika kita melihat lebih dalam, akar persoalannya bukanlah buah itu sendiri.
Akar persoalannya adalah bahwa manusia mulai meragukan Tuhan.
Ular tidak memulai pencobaan dengan menyangkal keberadaan Tuhan. Adam dan Hawa sudah mengenal Tuhan. Mereka berjalan bersama-Nya dan mendengar suara-Nya.
Sebaliknya, ular menyerang karakter Tuhan.
Ia menanamkan sebuah pertanyaan:
Apakah Tuhan benar-benar dapat dipercaya?
Ular membuat manusia mulai berpikir bahwa mungkin Tuhan sedang menahan sesuatu yang baik dari mereka. Mungkin Tuhan tidak sepenuhnya menginginkan yang terbaik bagi mereka. Mungkin mereka lebih mampu menentukan apa yang baik dan apa yang buruk bagi diri mereka sendiri.
Pada Saat Itulah Pemberontakan Dimulai
Pemberontakan bukan sekadar melanggar sebuah perintah.
Pemberontakan adalah memilih untuk mempercayai penilaian diri sendiri lebih daripada mempercayai Tuhan.
Manusia berkata dalam hatinya:
Saya tahu jalan yang lebih baik. Saya akan menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk. Saya tidak perlu bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.
Sejak saat itu, sejarah manusia menjadi sebuah kesaksian panjang tentang akibat dari hidup berdasarkan hikmat sendiri dan terpisah dari hikmat Sang Pencipta.
Abraham Memilih untuk Percaya
Namun di tengah dunia yang terus mencoba menentukan jalannya sendiri, Alkitab memperkenalkan seorang pria bernama Abraham.
Tentang Abraham tertulis:
Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.
— Kejadian 15:6
Apa yang membuat Abraham berbeda?
Ia memilih untuk mempercayai Tuhan.
Bukan karena ia memiliki semua jawaban.
Bukan karena keadaan mendukung.
Bukan karena ia melihat bukti yang lengkap.
Tetapi karena ia mengenal karakter Tuhan.
Emunah — Tuhan Dapat Diandalkan
Dalam bahasa Ibrani, konsep iman berkaitan dengan kata emunah, yang mengandung makna kesetiaan, keteguhan, keandalan, dan sesuatu yang layak dipercaya.
Iman bukan sekadar percaya bahwa Tuhan ada.
Iman adalah menyadari bahwa Tuhan begitu dapat diandalkan sehingga kita berani mempercayakan hidup kita kepada-Nya.
Dengan kata lain, iman berkata:
Tuhan setia. Tuhan dapat dipercaya. Tuhan teguh. Tuhan tidak berubah.
Karena itu saya berani menyerahkan hidup saya ke dalam tangan-Nya.
Pergumulan Kita Masih Sama
Bukankah pergumulan kita hari ini masih sama seperti di Eden?
Ketika doa belum dijawab, kita tergoda untuk mengambil kendali sendiri.
Ketika jalan Tuhan berbeda dari keinginan kita, kita mulai mempertanyakan kebijaksanaan-Nya.
Ketika keadaan menjadi sulit, kita mulai berpikir bahwa cara kita mungkin lebih baik daripada cara Tuhan.
Namun iman yang sejati selalu membawa kita kembali kepada satu pengakuan sederhana:
Tuhan, saya mungkin tidak mengerti apa yang sedang Engkau lakukan, tetapi saya tahu Engkau layak dipercaya.
Itulah kebalikan dari pemberontakan di Eden.
Dan itulah iman yang diperhitungkan Tuhan sebagai kebenaran.
Have a great day, family in Christ.

