Amsal menggambarkan godaan ini dengan sangat tajam.
“Air curian manis rasanya, dan makanan yang dimakan dengan sembunyi-sembunyi sedap rasanya!”
— Amsal 9:17
Yang bukan bagian kita sering terlihat lebih menarik.
Tetapi beberapa pasal sebelumnya, Amsal sudah mengajarkan:
“Minumlah air dari kulahmu sendiri, air yang mengalir dari sumurmu sendiri.”
— Amsal 5:15
Seakan-akan Tuhan sedang berkata:
Nikmatilah apa yang sudah Aku berikan kepadamu.
Jangan terus melihat sumur orang lain sampai kita lupa bahwa Tuhan sudah memberikan sumur kepada kita sendiri.
Ketika Satu Hal Menutupi Banyak Berkat
Pola ini sebenarnya sudah terlihat sejak taman Eden.
Adam dan Hawa hidup di tengah kelimpahan.
Begitu banyak pohon yang boleh mereka nikmati. Begitu banyak berkat yang Tuhan sudah berikan.
Tetapi perhatian mereka akhirnya tertuju kepada satu pohon yang tidak diberikan kepada mereka.
Begitulah keinginan yang salah bekerja.
Ia membuat satu hal yang belum kita miliki terlihat begitu besar, sampai kita tidak lagi melihat begitu banyak hal yang sudah Tuhan berikan.
Karena itu Tuhan berkata:
“Jangan mengingini…”
— Keluaran 20:17
Mengingini bukan sekadar ingin memiliki sesuatu.
Masalahnya dimulai ketika hati kita berkata:
“Apa yang Tuhan berikan kepadanya seharusnya menjadi milikku.”
Di titik itulah rasa syukur mulai hilang dan perbandingan mulai menguasai hati.
Tetapi Ada Jurang di Sisi yang Lain
Namun merasa cukup bukan berarti menjadi pasif.
Ada ekstrem lain yang sama berbahayanya:
kemalasan.
Kita bisa berkata:
“Ya sudah, saya puas dengan apa yang ada.”
Tetapi kemudian tidak melakukan apa pun dengan apa yang sudah Tuhan percayakan.
Itu juga bukan hikmat.
Amsal berkali-kali memperingatkan tentang kemalasan.
“Pergilah kepada semut, hai pemalas; perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak!”
— Amsal 6:6
Tuhan tidak hanya memberikan sesuatu untuk kita nikmati.
Banyak hal yang Tuhan berikan juga merupakan titipan untuk kita kelola.
Waktu kita.
Keluarga kita.
Pekerjaan kita.
Kemampuan kita.
Kesempatan kita.
Harta kita.
Pelayanan kita.
Semua itu ada di tangan kita untuk suatu waktu.
Dan suatu hari kita harus menjawab:
Apa yang kita lakukan dengan apa yang Tuhan percayakan kepada kita?
Dua Jurang
Karena itu ada dua jurang yang harus kita hindari.
Di satu sisi:
Mengingini bagian orang lain.
Kita terus melihat ladang orang lain sampai hati kita dipenuhi iri, kecewa, dan rasa tidak pernah cukup.
Di sisi yang lain:
Menyia-nyiakan bagian kita sendiri.
Kita memiliki ladang, tetapi tidak pernah mengolahnya.
Jalan hikmat berada di tengah.
Jangan mengingini ladang orang lain.
Tetapi jangan pula membiarkan ladang kita sendiri dipenuhi semak duri.
Tuhan tidak meminta kita menjadi seperti orang lain.
Dia meminta kita setia dengan bagian yang Dia percayakan kepada kita.
Mungkin orang lain menerima lima talenta.
Mungkin kita menerima dua.
Pertanyaannya bukan:
“Mengapa dia mendapat lebih banyak?”
Tetapi:
“Apa yang saya lakukan dengan yang Tuhan berikan kepada saya?”
Puas, Tetapi Tetap Bertumbuh
Inilah keseimbangan yang indah.
Puas membuat kita berhenti membandingkan.
Setia membuat kita tidak berhenti bertumbuh.
Puas menjaga hati kita dari iri hati.
Setia menjaga hidup kita dari kemalasan.
Puas berkata:
“Tuhan, apa yang Engkau berikan kepadaku cukup untuk aku syukuri.”
Setia berkata:
“Tuhan, apa yang Engkau percayakan kepadaku akan aku kelola sebaik mungkin.”
Kita tidak perlu mengejar bagian orang lain.
Kita hanya perlu mengolah dengan sungguh-sungguh bagian yang sudah Tuhan taruh di tangan kita.
Karena pada akhirnya, Tuhan tidak akan bertanya apakah ladang kita lebih besar daripada ladang orang lain.
Yang ingin kita dengar adalah:
“Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.”
— Matius 25:21
Maka mungkin satu kalimat ini cukup untuk kita bawa sepanjang hari:
Puas dengan apa yang Tuhan berikan, dan setia mengelolanya.
Puas membuat hati kita damai.
Kesetiaan membuat hidup kita berbuah.
Marilah Berdoa
Tuhan, ajar aku melihat berkat yang sudah Engkau berikan, bukan terus melihat apa yang belum aku miliki.
Jauhkan hatiku dari keinginan terhadap bagian orang lain, tetapi jauhkan juga aku dari kemalasan yang menyia-nyiakan bagian yang sudah Engkau percayakan kepadaku.
Ajarlah aku bersyukur atas bagianku, mengolah ladangku, memakai kemampuanku, menjaga keluargaku, menggunakan waktuku, dan menjalankan setiap tanggung jawab yang Engkau taruh di tanganku dengan setia.
Berikan aku hati yang puas, tangan yang rajin, dan kesetiaan sampai akhir.
Amin.


