Bukan sekadar seberapa banyak pengetahuan yang mereka miliki.
Bukan seberapa pintar mereka berbicara.
Bukan juga seberapa cepat mereka dapat menjawab sebuah perdebatan.
Perbedaannya sering kali terlihat dari satu hal yang sangat sederhana:
Bagaimana mereka bereaksi ketika kebenaran menunjukkan bahwa mereka salah.
“Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak.”
— Amsal 12:15
Orang bijak mencari kebenaran.
Karena itu, sekalipun kebenaran tersebut menyakitkan, memalukan, atau membuatnya harus mengakui bahwa selama ini ia salah, ia tetap memilih kebenaran.
Mengapa?
Karena bagi orang bijak, mengetahui kebenaran lebih berharga daripada terlihat benar.
Sebaliknya, orang bodoh mencari pembenaran.
Ia sudah memiliki kesimpulan.
Ia sudah merasa dirinya benar.
Kemudian ia mencari argumen, ayat, pendapat, atau orang lain yang dapat mendukung apa yang sejak awal ingin ia percayai.
Ia tidak sungguh-sungguh bertanya:
“Apakah ini benar?”
Ia sebenarnya sedang bertanya:
“Bagaimana saya bisa membuktikan bahwa saya benar?”
Di sinilah bahayanya.
“Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya.”
— Amsal 18:2
Betapa tajam perkataan ini.
Orang bodoh bukan selalu orang yang tidak mempunyai pendapat. Justru sering kali ia mempunyai sangat banyak pendapat.
Ia ingin berbicara. Ia ingin didengar. Ia ingin menjelaskan apa yang ia pikirkan. Tetapi ia tidak terlalu tertarik untuk mengetahui apakah pikirannya sendiri benar.
Ironis sekali.
Seseorang dapat berbicara tentang kebenaran sepanjang hari, sementara di dalam hatinya ia sebenarnya tidak mencintai kebenaran.
Ia hanya mencintai pendapatnya sendiri tentang kebenaran.
Dan kedua hal itu sangat berbeda.
Orang Bijak Tidak Takut Dikoreksi
“Kecamlah orang bijak, maka engkau akan dikasihinya, berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak.”
— Amsal 9:8–9
Perhatikan sesuatu yang indah di sini.
Orang bijak belum tentu selalu benar. Kalau orang bijak selalu benar, ia tidak membutuhkan teguran.
Tetapi Kitab Amsal mengatakan bahwa ketika orang bijak ditegur, ia menjadi lebih bijak.
Jadi salah satu tanda hikmat bukanlah:
“Saya tidak pernah salah.”
Melainkan:
“Ketika saya salah, saya bersedia diperbaiki.”
Orang bijak dapat berkata:
“Saya belum pernah melihatnya dari sudut itu.”
“Mungkin saya salah memahami ayat ini.”
“Coba tunjukkan kepada saya.”
“Saya harus memeriksanya kembali.”
Kalimat-kalimat seperti itu bukan tanda kelemahan.
Itulah tanda seseorang yang lebih mencintai kebenaran daripada egonya sendiri.
Orang Bodoh Melihat Koreksi sebagai Serangan
Sebaliknya, orang bodoh sering menganggap koreksi sebagai ancaman.
Ketika seseorang menunjukkan kesalahannya, ia tidak langsung memeriksa apakah teguran itu benar. Ia justru mulai mempertahankan dirinya.
“Siapa kamu mengoreksi saya?”
“Kamu tidak mengerti maksud saya.”
“Pendeta ini mengatakan demikian.”
“Saya sudah percaya ini selama bertahun-tahun.”
Ia mulai mencari pembenaran. Bukan karena pembenarannya benar, tetapi karena egonya tidak mau kehilangan posisi.
Padahal jika yang kita cari sungguh-sungguh adalah kebenaran, bukankah seharusnya kita bersyukur ketika seseorang menunjukkan bahwa kita salah?
Bayangkan seseorang sedang berjalan menuju jurang. Lalu seseorang berteriak:
“Berhenti! Jalanmu salah!”
Apakah orang bijak akan berkata:
“Berani sekali kamu menghakimi jalan saya?”
Tidak.
Ia akan melihat ke depan. Dan ketika menyadari bahwa di depannya memang jurang, ia akan bersyukur karena telah diperingatkan.
Begitu pula dengan kebenaran.
Koreksi yang benar bukanlah musuh kita.
Kadang-kadang justru itulah bentuk kasih Tuhan kepada kita.
Pertanyaannya Bukan “Siapa yang Mengatakan?”, tetapi “Apakah Benar?”
Inilah sikap yang harus kita pelihara ketika membaca Kitab Suci.
Jangan menerima sesuatu hanya karena orang yang berbicara mempunyai gelar.
Jangan menolaknya hanya karena kita tidak menyukai orangnya.
Jangan menerimanya karena sesuai dengan apa yang selama ini kita percaya.
Dan jangan menolaknya hanya karena membuat kita tidak nyaman.
Pertanyaan yang harus tetap tinggal di hati kita adalah:
“Apakah memang demikian?”
Jika benar, terimalah—sekalipun yang mengatakannya adalah orang yang tidak kita sukai.
Jika salah, tinggalkanlah—sekalipun yang mengatakannya adalah orang yang sangat kita hormati.
Karena manusia bukan ukuran kebenaran.
Kebenaran tetaplah kebenaran, sekalipun tidak seorang pun mempercayainya.
Dan kesalahan tetaplah kesalahan, sekalipun seluruh dunia menyetujuinya.
Hati-hati: Kita Semua Dapat Mencari Pembenaran
Sangat mudah membaca renungan seperti ini lalu langsung berpikir:
“Ya, saya tahu seseorang yang seperti itu.”
Tetapi mungkin respons pertama yang lebih bijaksana adalah:
“Tuhan, apakah saya juga seperti itu?”
Ketika membaca Kitab Suci, apakah saya sungguh mencari apa yang Tuhan katakan? Atau saya hanya mencari ayat yang mendukung apa yang sudah ingin saya percayai?
Ketika seseorang mengoreksi saya, apakah pikiran pertama saya adalah memeriksa? Atau membela diri?
Ketika saya menemukan bukti yang berlawanan dengan keyakinan saya, apakah saya bersedia mengubah pikiran? Atau saya mencari sepuluh alasan untuk mengabaikannya?
Ada perbedaan besar antara mencari kebenaran dan mencari pembenaran.
Dari luar, keduanya dapat terlihat sama.
Keduanya membuka Kitab Suci. Keduanya membaca. Keduanya berdiskusi. Keduanya bahkan dapat berkata, “Saya hanya mau mengikuti firman Tuhan.”
Tetapi hati mereka berbeda.
Yang satu berkata:
“Tuhan, tunjukkan kepada saya apa yang benar.”
Yang lain berkata:
“Tuhan, tolong buktikan bahwa saya benar.”
Hikmat Membutuhkan Kerendahan Hati
Amsal 15:31–32 berkata bahwa orang yang mendengarkan teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di antara orang bijak.
Mengapa?
Karena untuk menerima kebenaran, seseorang membutuhkan kerendahan hati.
Kita harus berani berkata:
“Saya mungkin salah.”
Dan mungkin kalimat itulah salah satu pintu terbesar menuju hikmat.
Bukan:
“Saya pasti benar.”
Tetapi:
“Saya ingin mengetahui apa yang benar.”

