Di tangan kita ada kekayaan yang nilainya tidak dapat diukur dengan uang: perkataan dan tuntunan dari Tuhan, Pencipta langit dan bumi.
Alkitab bukan sekadar kumpulan cerita lama. Di dalamnya ada keindahan, hikmat, dan permata-permata yang menunggu untuk ditemukan oleh mereka yang mau mencari-Nya dengan sungguh-sungguh.
Hari ini saya ingin mengajak kita melihat salah satu permata itu dalam Mazmur 25.
Sekilas, Mazmur 25 terlihat seperti doa Daud yang biasa: ia meminta tuntunan, pengampunan, perlindungan, dan pertolongan Tuhan.
Tetapi ternyata doa ini disusun dengan sangat indah.
Mazmur 25 dibangun mengikuti urutan alfabet Ibrani, dari Alef sampai Tav—kurang lebih seperti kita menyusun tulisan dari A sampai Z. Namun susunannya tidak sepenuhnya lengkap: ada beberapa huruf yang tidak muncul pada tempat yang kita harapkan. Dan menariknya, celah-celah itu bertepatan dengan perubahan besar dalam isi doa Daud.
Kalau kita memperhatikannya sebagai suatu struktur, doa ini dapat kita lihat dalam tiga gerakan besar.
Bagian 1 — Menghadap Tuhan
Alef — “Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku.”
Bet — “Kepada-Mu aku percaya.”
Gimel — “Tidak seorang pun yang menanti-nantikan Engkau akan mendapat malu.”
Dalet — “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku.”
He — “Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku… Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.”
Perhatikan bagaimana Daud memulai doanya.
Ia belum berbicara tentang musuhnya. Ia belum meminta masalahnya diselesaikan.
Ia terlebih dahulu berkata: “Kepada-Mu.”
Jiwanya diarahkan kepada Tuhan. Kepercayaannya diletakkan kepada Tuhan. Jalannya diserahkan kepada Tuhan.
Sebelum meminta Tuhan masuk ke dalam persoalannya, Daud terlebih dahulu membawa dirinya masuk ke dalam jalan Tuhan.
Bagian 2 — Di hadapan Tuhan
Setelah itu nada doanya berubah:
“Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu…”
“Janganlah Kauingat dosa-dosa masa mudaku…”
“Ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu…”
“Ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu.”
Ini bagian yang sangat menyentuh saya.
Tidak sekalipun Daud berkata: “Tuhan, ingatlah semua perbuatan baikku.”
Ia tidak membawa daftar kebaikannya di hadapan Tuhan.
Sebaliknya, ia berkata: ingatlah belas kasihan-Mu. Ingatlah kasih setia-Mu. Jangan ingat dosaku. Ingatlah aku menurut kebaikan-Mu.
Daud tahu bahwa ketika seorang manusia berdiri di hadapan Tuhan yang kudus, harapannya bukanlah pada betapa baik dirinya.
Harapannya ada pada betapa baik Tuhan.
Bagian 3 — Di dalam naungan Tuhan
Kemudian doanya bergerak lagi:
“Pandanglah kesengsaraan dan kesukaranku…”
“Pandanglah musuh-musuhku…”
“Jagalah jiwaku dan lepaskanlah aku…”
Setelah menyerahkan dirinya kepada Tuhan, setelah memohon belas kasihan Tuhan, barulah Daud menyerahkan segala penderitaan dan musuh-musuhnya kepada Tuhan.
Jadi secara sederhana, Mazmur 25 mengajarkan kita sebuah pola doa yang sangat indah:
Menghadap Tuhan → Tuhan, kepada-Mu kuangkat jiwaku. Tunjukkan jalan-Mu.
Berdiri di hadapan Tuhan → Tuhan, aku tidak datang membawa kebaikanku. Aku datang mengandalkan belas kasihan dan kasih setia-Mu.
Bernaung di dalam Tuhan → Sekarang jagalah aku, tuntun aku, dan lepaskan aku dari apa yang mengancamku.
Doa yang Meluas kepada Umat Tuhan
Dan setelah seluruh alfabet itu mencapai Tav, seolah-olah doa pribadi Daud telah selesai.
Tetapi Daud masih menambahkan satu kalimat:
Ya Tuhan, bebaskanlah Israel dari segala kesesakannya.
— Mazmur 25:22
Doa yang dimulai dengan: “Jiwaku…” akhirnya berakhir dengan: “Israel.”
Daud tidak berhenti pada dirinya sendiri.
Sesudah mengalami bahwa Tuhan adalah tempat ia berharap, tempat ia menerima belas kasihan, dan tempat ia berlindung, hatinya berpaling kepada seluruh umat Tuhan:
“Tuhan, apa yang aku minta untuk diriku, lakukanlah juga bagi umat-Mu.”
Mungkin itu juga sesuatu yang dapat kita pelajari ketika berdoa.
Datanglah kepada Tuhan bukan dengan berkata, “Lihatlah betapa baiknya aku.”
Tetapi: “Lihatlah aku menurut kasih setia-Mu.”
Karena pada akhirnya, dasar pengharapan kita bukanlah kesetiaan kita kepada Tuhan.
Dasar pengharapan kita adalah kesetiaan Tuhan kepada kita.
Tuhan memberkatimu keluargaku dalam Kristus.


