“Kalau kamu melihat gereja sedang kesulitan keuangan tetapi tetap tidak mau memberi, itu artinya kamu buta rohani!”
Saya terdiam.
Benarkah itu yang Alkitab maksud dengan kebutaan rohani?
Memberi tentu adalah bagian penting dari kehidupan seorang murid Kristus. Tetapi rasanya kebutaan rohani jauh lebih dalam daripada sekadar apakah seseorang memberi uang atau tidak.
Perjalanan “Melihat” dalam Yohanes 9
Saya teringat kisah orang yang lahir buta dalam Yohanes 9.
Pada awal kisah, matanya memang tidak dapat melihat. Tetapi menariknya, setelah Yesus membuka mata fisiknya, perjalanan “melihat”-nya ternyata belum selesai.
Mula-mula ia hanya mengenal Dia sebagai “orang yang disebut Yesus.”
Kemudian ia berkata, “Ia adalah seorang nabi.”
Sesudah mengalami tekanan dan interogasi dari para pemimpin agama, pengertiannya semakin terang: ia menyadari bahwa Yesus berasal dari Allah.
Dan akhirnya Yesus sendiri datang menemuinya.
Ketika ia mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya, ia berkata:
“Lord, I believe.”
Lalu ia menyembah-Nya.
Di situlah saya mulai memahami sesuatu.
Mata rohani yang terbuka bukan sekadar mata yang melihat keadaan.
Mata rohani yang terbuka adalah mata yang mulai mengenali Tuhan di tengah keadaan.
Sebuah Pertanyaan Saat Sarapan
Dan pagi ini Tuhan seperti memberi saya sebuah pelajaran kecil tentang hal itu.
Saya dan istri sedang sarapan sambil berbincang.
Saya bertanya,
“Kenapa ya Tuhan membiarkan orang yang sudah mengikuti-Nya tetap mengalami pasang-surut? Ada masa naik, ada masa turun. Ada sukacita, tetapi ada juga kesulitan.”
Jawaban istri saya sederhana sekali:
“Kalau hidup senang terus, mungkin kita malah lupa Tuhan. Wong waktu susah saja kadang masih lupa saat teduh dan berdoa.”
Hahaha.
Ada benarnya juga.
Percakapan itu selesai. Saya mandi, lalu naik ke lantai tiga untuk bersaat teduh.
Saya membuka materi Daily Bread pagi itu.
Dan ayat yang menyambut saya adalah Ulangan 8:2–3.
Jawaban dari Padang Gurun
Israel diperintahkan untuk mengingat bagaimana Tuhan memimpin mereka selama empat puluh tahun di padang gurun.
Tuhan membiarkan mereka lapar.
Mengapa?
Untuk merendahkan mereka.
Untuk menguji mereka.
Untuk menyingkapkan apa yang sebenarnya ada di dalam hati mereka.
Dan kemudian Tuhan memberi mereka manna supaya mereka belajar bahwa:
“Man does not live on bread alone but on every word that comes from the mouth of the LORD.”
— Deuteronomy 8:3
Saya tersenyum.
Baru beberapa menit sebelumnya saya bertanya,
“Tuhan, mengapa hidup bersama-Mu masih ada naik dan turunnya?”
Dan pagi itu Firman seperti menjawab saya:
Karena terkadang padang gurun menyingkapkan sesuatu yang tidak kelihatan ketika hidup sedang nyaman.
Kesulitan dapat memperlihatkan kesombongan yang masih tersembunyi.
Kelaparan dapat memperlihatkan apa yang sebenarnya kita andalkan.
Kekurangan dapat mengajar kita bahwa ternyata selama ini kita merasa sanggup hidup dengan kekuatan sendiri.
Dan di situlah Tuhan merendahkan kita—bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk mengajar kita bergantung kepada-Nya.
Bukan hanya untuk roti yang memberi makan tubuh.
Tetapi juga untuk Roti dari surga yang memberi kehidupan kepada jiwa.
Ketika Firman Menerangi Pengalaman
Apakah ayat yang muncul pagi itu sebuah “kebetulan”?
Mungkin seseorang dapat menyebutnya demikian.
Tetapi iman mengajar saya untuk tidak terlalu cepat berjalan melewati momen-momen seperti ini.
Iman membuat saya berhenti dan berkata:
“Tuhan, apakah Engkau sedang berbicara kepadaku?”
Dan ketika Firman-Nya menerangi pengalaman kita, kita mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tidak kita lihat.
Keadaannya mungkin sama.
Masalahnya mungkin belum berubah.
Padang gurunnya mungkin masih ada.
Tetapi mata kita mulai terbuka.
Kita mulai melihat bahwa di tengah semua itu, Tuhan tidak meninggalkan kita.
Ia sedang mengajar.
Ia sedang membentuk.
Ia sedang menyingkapkan hati kita.
Ia sedang mengajar kita bergantung kepada-Nya.
Mungkin inilah salah satu bentuk sederhana dari mata rohani yang mulai dicelikkan:
bukan melihat sesuatu yang tidak ada,
tetapi mulai mengenali Allah yang selama ini sudah ada dan bekerja.
Have a blessed day, family of Christ.
May our eyes be opened—not merely to see His blessings, but to recognize Him.

