Kacamatanya Tuhan
Kembali
Seorang petani membajak tanah bersama lembu menuju panen yang berlimpah

RENUNGAN NO. 46 PANGGILAN & BUAH KEHIDUPAN

Berhasil dalam Hidup

Panen yang berlimpah tidak datang bersama kehidupan yang selalu bersih, rapi, nyaman, dan bebas masalah.

Adakah seorang bapa yang ingin melihat anaknya hidup berkekurangan, tidak bertumbuh, dan tidak menghasilkan apa-apa?

Tentu tidak.

Terlebih lagi Bapa kita di surga. Ia ingin hidup kita berbuah—menjadi berkat, bertumbuh dalam hikmat, dan menghasilkan sesuatu yang bernilai dari segala sesuatu yang telah Ia percayakan kepada kita.

Tetapi pertanyaannya:
Apakah kita siap dengan harga dari sebuah kehidupan yang berbuah?

Karena ternyata, panen yang berlimpah tidak datang bersama kehidupan yang selalu bersih, rapi, nyaman, dan bebas masalah.

Hari ini mari kita belajar dari sebuah kalimat hikmat yang sangat sederhana dari Raja Salomo:

Amsal 14:4

“Kalau tidak ada lembu, juga tidak ada gandum, tetapi dengan kekuatan sapi banyaklah hasil.”

Sekilas perkataan ini sangat masuk akal.
Pada zaman itu, lembu adalah kekuatan utama untuk membajak tanah. Tidak ada lembu berarti pekerjaan lebih sedikit—tetapi juga berarti hasil panen jauh lebih sedikit.

Namun ada satu gambaran indah dalam bahasa Ibrani yang kurang terasa dalam terjemahan tersebut.
Terjemahan AYT membuat kontrasnya lebih terlihat:

“Jika tidak ada sapi, palungan menjadi bersih…”

Ah… di sinilah permatanya.

01

Palungan Bersih atau Panen Berlimpah?

Kalau kita tidak memiliki lembu, kandang memang menjadi bersih.
Tidak ada kotoran.
Tidak perlu memberi makan.
Tidak perlu merawat.
Tidak ada keributan.
Tidak ada masalah.
Semuanya rapi.

Tetapi tidak ada panen.

Sebaliknya, kalau kita menginginkan panen yang berlimpah, kita harus bersedia menerima kenyataan bahwa kandang akan menjadi kotor.

Inilah hikmat Tuhan:
Hal-hal yang menghasilkan buah dalam kehidupan sering kali juga membawa kerepotan.

02

Kerepotan yang Membawa Buah

Bayangkan sebuah gereja tanpa orang-orang yang sulit.
Pasti damai sekali.

Tetapi kalau tidak ada manusia yang perlu dibimbing, ditegur, dikasihi, dikuatkan, dan dipulihkan—siapa yang akan digembalakan?

Bayangkan orang tua tanpa anak.
Rumah mungkin lebih tenang. Tidak ada tangisan, tidak ada mainan berantakan, tidak ada sekolah yang harus dipikirkan, tidak ada pertanyaan yang tidak ada habisnya.

Tetapi juga tidak ada seorang anak yang dapat dibesarkan, dikasihi, dan dipersiapkan untuk mengenal Tuhan.

Bayangkan seorang pemimpin tanpa orang-orang yang dipimpinnya.
Tidak ada konflik.
Tidak ada kesalahan.
Tidak ada keluhan.
Tidak ada orang yang harus diajar berulang kali.
Pekerjaan pasti jauh lebih sederhana.

Tetapi…
tidak ada organisasi yang sedang dibangun.

Dan mungkin inilah yang paling penting untuk kita yang melayani:
Manusia itu “berantakan.”

Ketika Tuhan mempercayakan manusia kepada kita, mereka datang bersama pertanyaan, kelemahan, ketidakdewasaan, perbedaan pendapat, kesalahan, bahkan terkadang kekecewaan.

Kadang kita mungkin berpikir:
“Seandainya saya tidak perlu menghadapi orang-orang seperti ini, semuanya pasti berjalan sempurna.”

Benar.
Palungannya pasti sangat bersih. 😂

Tetapi justru kekuatan lembulah yang menghasilkan panen.

03

Kerapian Tidak Selalu Berarti Keberhasilan

Karena itu Amsal 14:4 mengajarkan sebuah prinsip kehidupan yang sangat dalam:
Kerapian tidak selalu berarti keberhasilan.
Kenyamanan tidak selalu berarti berkat.
Tidak adanya masalah tidak selalu berarti kita sedang berbuah.

Kita bisa mengatur hidup sedemikian rupa sehingga tidak ada gangguan, tidak ada risiko, tidak ada tanggung jawab, tidak ada orang yang merepotkan kita, dan tidak ada masalah.
Hidup menjadi sangat rapi.

Tetapi mungkin juga…
tidak ada panen.

Maka orang berhikmat tidak hanya bertanya:
“Bagaimana caranya supaya hidup saya tidak mempunyai masalah?”

Orang berhikmat bertanya:
“Masalah mana yang memang harus saya hadapi karena di baliknya ada sesuatu yang berharga sedang Tuhan kerjakan?”

04

Mungkin Inilah “Lembu” Kita

Mungkin anak yang melelahkan itu adalah lembu kita.

Mungkin orang yang sulit kita pimpin adalah lembu kita.

Mungkin pelayanan yang merepotkan itu adalah lembu kita.

Mungkin usaha yang terus menuntut perhatian itu adalah lembu kita.

Dan mungkin kita sedang terlalu sibuk meminta Tuhan membersihkan kandang…
sementara Tuhan sedang berkata:
“Lihatlah panennya.”

Jangan terlalu cepat menyingkirkan sesuatu hanya karena ia membuat hidup kita menjadi lebih sulit.

Kadang-kadang kandang yang kotor adalah tanda bahwa ada kehidupan di dalamnya.

Dan tempat di mana ada kehidupan, kerja keras, kasih, kesabaran, dan tanggung jawab…
sering kali adalah tempat di mana Tuhan sedang mempersiapkan panen yang berlimpah.

05

Pertanyaan untuk Hari Ini

Jadi hari ini, mari kita bertanya kepada diri kita sendiri:
Apakah saya hanya menginginkan palungan yang bersih…
atau saya sungguh-sungguh menginginkan panen?

Selamat pagi, keluarga dalam Kristus.
Mari menjalani hari ini dengan hikmat dari Tuhan. ❤️

LANJUTKAN PERJALANAN

Temukan renungan lain untuk langkah hidupmu.

Kembali ke semua renungan