Gambaran Kesombongan Orang Fasik
Kata orang fasik itu dengan batang hidungnya ke atas: “Tuhan tidak akan menuntut! Tidak ada Tuhan!” Itulah seluruh pikirannya. Tindakan-tindakannya selalu berhasil; hukum-hukum-Mu tinggi sekali, jauh dari dia; ia menganggap remeh semua lawannya.
— Mazmur 10:4–5
Apabila kita membaca ayat di atas, apakah kita akan menyimpulkan bahwa menurut Tuhan, tindakan orang fasik memang akan selalu berhasil? Tentu tidak.
Ini adalah gambaran tentang kesombongan orang fasik yang mengira dirinya aman dari penghakiman Tuhan. Ia merasa jalannya selalu mulus, seolah-olah hukum dan keadilan Tuhan berada jauh di luar jangkauan hidupnya.
Pertanyaannya: Apakah kita juga sering terjebak dalam pemikiran yang salah seperti orang fasik ini, hanya karena kita terbiasa membaca ayat Alkitab secara sepotong-sepotong?
Contoh 1 — Rancangan Damai Sejahtera di Tengah Pembuangan
Mari kita lihat ayat yang sangat populer dan sering kita kutip ini:
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
— Yeremia 29:11
Mendengar ayat ini, kita spontan berseru, “Wow, amin Tuhan! Rancangan yang luar biasa!” Kita sangat setuju dan senang mengklaimnya.
Namun, apakah kita memperhatikan apa yang tertulis tepat satu ayat sebelumnya?
Sebab beginilah firman Tuhan: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini.
— Yeremia 29:10
Janji yang indah ini ternyata diberikan sebagai bentuk penghiburan bagi mereka yang sedang berada di tengah-tengah disiplin dan hajaran Tuhan. Di saat umat-Nya harus menjalani masa pembuangan di Babel, Tuhan menegaskan bahwa Ia tidak meninggalkan mereka dan tetap memegang kendali atas masa depan mereka.
Contoh 2 — Persepuluhan Bukan Formula Kemakmuran Instan
Satu contoh lagi yang sering kali disalahartikan:
Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan… dan ujilah Aku… apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.
— Maleakhi 3:10
Banyak orang, bahkan pengkhotbah, kerap menggunakan ayat ini sebagai sebuah “formula kemakmuran” atau semacam investasi untuk memancing berkat material.
Tetapi mari kita mundurkan pembacaan kita ke ayat sebelumnya:
Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa!
— Maleakhi 3:9
Konteks asli dari bagian ini adalah sebuah teguran keras dari Tuhan kepada bangsa Israel karena mereka telah tidak setia dan melanggar perjanjian dengan-Nya. Jadi, esensi ayat ini jauh sekali dari sekadar jaminan atau trik untuk mendapatkan kekayaan materi secara instan.
Menjadi Anak Tuhan yang Dewasa Secara Rohani
Family of God, melalui renungan hari ini, saya merindukan kita semua bisa bertumbuh menjadi anak-anak Tuhan yang dewasa secara rohani. Mari kita berhenti mengambil ayat Alkitab secara terpisah hanya untuk mencocokkannya dengan keinginan kita sendiri, padahal bukan itu konteks yang dimaksudkan oleh Firman Tuhan.
Kunci utama dari kehidupan rohani yang bertumbuh sehat adalah ketika kita sendiri mau mengambil waktu untuk duduk, membuka Alkitab, membaca Firman-Nya secara utuh ayat demi ayat, lalu merenungkannya dengan hati yang terbuka.
Hanya melalui cara itulah manusia rohani kita akan bertumbuh semakin besar, kuat, dan peka, sehingga kita dapat mengerti dengan tepat apa yang baik, apa yang mulia, dan apa yang menyenangkan hati Tuhan.
Have a blessed day, fams.

