Kacamatanya Tuhan
Kembali
Seorang pria duduk dalam doa di lanskap yang terang setelah badai berlalu

RENUNGAN NO. 23 IMAN & KEPERCAYAAN

Apakah Ayub Takut Akan Allah Tanpa Alasan?

Kedewasaan iman menuntut kita melihat melampaui berkat dan mencintai Tuhan hanya karena Dia adalah Tuhan.

“Apakah Ayub takut akan Allah tanpa alasan?”

Ayub 1:9

Pertanyaan ini adalah inti dari seluruh kitab Ayub. Dalam bahasa yang sederhana, Iblis sedang menggugat kemurnian iman kita dengan bertanya: “Apakah seseorang tetap setia jika ia tidak mendapatkan keuntungan apa-apa?”

01

1/3 — Sahabat di Kala Senang

Bayangkan Anda memiliki seorang teman yang sangat kaya raya. Anda bersamanya setiap hari, memuji dia, dan selalu siap membantunya. Lalu seseorang bertanya: “Apakah kamu benar-benar menyukai orang itu, atau kamu hanya menyukai fasilitas dan traktiran yang ia berikan?”

Inilah tuduhan Iblis kepada Tuhan. Iblis mengejek bahwa Ayub bukanlah orang yang tulus; ia hanyalah seorang “pebisnis cerdas” yang tahu bahwa bersikap “baik” akan mendatangkan “berkat” yang melimpah dari Tuhan.

02

2/3 — Pagar Perlindungan

Iblis mengklaim bahwa Tuhan telah memasang “pagar” di sekeliling Ayub yang membuatnya selalu aman, sehat, dan kaya. Menurut Iblis, hubungan itu hanyalah sebuah transaksi:

Iblis bertaruh bahwa jika perlindungan itu dicabut, Ayub akan berhenti menyembah Dia. Ia menuduh bahwa iman Ayub hanyalah sebuah kontrak bisnis, bukan ikatan kasih.

03

3/3 — Kesalehan Tanpa Pamrih

Inilah pertanyaan bagi kita semua: Apakah kita mengasihi Tuhan karena siapa Dia, atau hanya karena apa yang bisa Dia berikan kepada kita?

04

Penutup

Perjalanan iman kita mungkin dimulai dari berkat-berkat-Nya yang kita rasakan. Namun, kedewasaan iman menuntut kita untuk melihat melampaui berkat tersebut dan mengambil keputusan untuk mencintai Tuhan hanya karena Dia adalah Tuhan—for what He is.

05

Doa

“Tuhan, Engkau adalah Pencipta, dan aku hanyalah ciptaan-Mu. Kiranya hatiku menemukan keindahan-Mu yang sejati, sehingga aku dapat berkata: Terjadilah sesuai kehendak-Mu atas seluruh hidupku.”

LANJUTKAN PERJALANAN

Temukan renungan lain untuk langkah hidupmu.

Kembali ke semua renungan