Ketika iman mulai dipertanyakan
Satu pertanyaan sederhana akhirnya mengubah hidupnya.
Di tengah berbagai pengajaran yang saling bertentangan, ia mendengar kasih karunia, tuntutan, peringatan, ancaman, nubuat, dan perkataan yang semuanya mengatasnamakan Tuhan. Jika keselamatan adalah perkara kekal, ia tidak mau mempercayakan jawabannya hanya kepada pendapat manusia.
“Tuhan, mana yang benar?”
Maka ia mulai melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sejak awal: ia membuka Alkitab sendiri. Bukan untuk membenarkan keyakinannya, melainkan untuk berkata, “Kalau pemikiranku salah, ubahlah aku. Aku hanya ingin mengetahui apa yang benar.”
Lalu Firman mulai berbicara
Yang berubah bukan hanya teologinya. Gambarannya tentang Tuhan berubah.
Ia menemukan bahwa Injil bukan kabar tentang manusia yang berusaha cukup baik supaya Tuhan menerima mereka. Injil adalah kabar tentang Tuhan yang menyelamatkan manusia yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.”
Efesus 2:8 · TB
“Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.”
Yohanes 6:37 · TB
“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.”
Roma 8:1 · TB
Tuhan yang dahulu ia takutkan sebagai Pribadi yang mungkin sewaktu-waktu menolaknya mulai ia kenal sebagai Bapa. Perlahan, iman memperoleh kalimat yang sederhana: Yesus cukup.
Jangan pernah menaruh perkataan manusia di atas Firman Tuhan.
Pendeta dapat salah. Guru dapat salah. Tradisi dapat salah. Saya sendiri dapat salah.
Karena itu kita selalu dapat kembali dan bertanya: “Apa yang sebenarnya tertulis?”Ketika kemarahan mendapat arah
Mengetahui sesuatu yang benar ternyata belum cukup.
Ia melihat pengajaran yang menurutnya memutarbalikkan karakter Tuhan dan Injil kasih karunia. Ia marah. Namun perlahan pertanyaannya berubah. Bukan lagi hanya, “Mengapa ini dibiarkan?” melainkan, “Bagaimana saya dapat membantu orang melihat sendiri apa yang Firman katakan?”
Bukan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih benar, tetapi untuk mengundang orang duduk, membuka Alkitab, dan melihat bersama-sama betapa indahnya Tuhan.
Kitab Suci mulai terhubung
Ribuan ayat itu ternyata membentuk satu permadani.
Gunung. Air. Darah. Roti. Gembala. Mempelai. Padang gurun. Bait Tuhan. Korban. Perjanjian. Sebuah kata di Kejadian muncul kembali dalam Injil. Gambaran dalam Taurat memperoleh kedalaman baru dalam Kristus.
Setiap kali satu hubungan terbuka, ada kegembiraan sederhana: “Ah! Jadi ini maksudnya.”
Dari situlah sebuah nama lahir
Kacamatanya Tuhan
Bukan karena manusia mampu melihat segala sesuatu sebagaimana Tuhan melihatnya. Kita tidak mampu. Namun kita dapat belajar melepaskan tradisi, prasangka, ketakutan, dan keinginan untuk selalu benar—lalu melihat kehidupan melalui apa yang Tuhan nyatakan dalam Firman-Nya.
“Bukan: menurut saya Tuhan seperti ini.
Mari kita lihat bagaimana Tuhan memperkenalkan diri-Nya.”
Firman di atas suara manusia
Pendeta, guru, tradisi, dan saya sendiri dapat salah. Karena itu kita selalu kembali bertanya: “Apa yang sebenarnya tertulis?”
Kebenaran bukan senjata
Tujuannya bukan memenangkan perdebatan, tetapi membantu seseorang membuka Alkitab dan melihat keindahan Tuhan.
Kejujuran dalam penafsiran
Jika Firman tidak mengatakan sesuatu, jangan berkata bahwa Tuhan mengatakannya. Kerendahan hati berani berkata, “Saya belum tahu.”

Jadi siapakah pria itu?
Pria itu—
adalah saya.
Kacamatanya Tuhan adalah salah satu jawaban saya kepada kasih karunia yang telah Tuhan tunjukkan. Saya tidak membangunnya karena telah memahami semuanya, tetapi karena saya belajar betapa mudahnya manusia tersesat ketika berhenti mendengarkan Firman.
“Saya tidak ingin orang mempercayai saya. Saya ingin mereka membuka Alkitab dan melihat sendiri.”
Jika saya salah—ikuti Firman, bukan saya. Jika satu artikel, pertanyaan, ayat, atau percakapan menolong seseorang melihat Tuhan sedikit lebih jelas, maka pelayanan ini telah melakukan apa yang sejak awal saya harapkan.

