Kacamatanya Tuhan
Kembali

Mari Belajar Studi 54

Ibadah dan Doa yang Sejati: Haruskah Hanya di ‘Rumah Tuhan’?

Banyak pengajar berkata bahwa ibadah dan doa yang sejati hanya dapat dilakukan di gedung gereja, seolah-olah bangunan itu sendiri adalah ‘rumah Tuhan’. Namun setelah Kristus datang, Firman menunjukkan bahwa fokus Allah bukan lagi pada lokasi suci, melainkan pada umat yang ditebus-Nya. Mari kita uji semuanya dengan Kitab Suci.

Mulai membaca
01 Lembar studi 1
Lembar studi 1: Ibadah dan Doa yang Sejati: Haruskah Hanya di ‘Rumah Tuhan’?

Penjelasan

“Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam Roh dan kebenaran.” — Yohanes 4:21, 23

Pertanyaan utamanya adalah: apakah ‘rumah Tuhan’ dalam Perjanjian Baru berarti gedung, atau umat-Nya?

1. Konteks perkataan Yesus kepada perempuan Samaria

Perdebatan pada zaman itu adalah tentang lokasi ibadah: Gunung Gerizim atau Yerusalem. Namun Yesus mengarahkan perhatian kepada sesuatu yang lebih tinggi. Ibadah sejati tidak ditentukan oleh tempat, melainkan oleh hubungan dengan Bapa melalui Roh dan kebenaran. Karena itu, tidak ada gedung yang memonopoli hadirat Allah (Yohanes 4:21–24).

2. Allah tidak tinggal dalam bangunan buatan tangan manusia

Stefanus berkata, “Yang Mahatinggi tidak diam di dalam rumah buatan tangan manusia” (Kisah Para Rasul 7:48). Paulus menjelaskan hal yang sama di Athena (Kisah Para Rasul 17:24). Gedung dapat dipakai untuk berkumpul, mengajar, dan melayani, tetapi bangunan itu sendiri bukan tempat eksklusif di mana Allah baru hadir.

3. Orang percaya sekarang adalah bait Allah

Paulus berkata bahwa jemaat adalah bait Allah dan Roh Allah diam di tengah-tengah mereka (1 Korintus 3:16). Tubuh orang percaya juga disebut bait Roh Kudus (1 Korintus 6:19). Petrus menambahkan bahwa kita adalah ‘rumah rohani’ yang tersusun dari batu-batu hidup (1 Petrus 2:5). Dalam Perjanjian Baru, ‘rumah Tuhan’ terutama menunjuk kepada umat-Nya, bukan gedungnya.

4. Doa didengar karena hadirat Allah, bukan karena gedung

Yesus mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa di kamar tertutup (Matius 6:6). Dalam Alkitab, orang berdoa di rumah, di atap rumah, di padang gurun, di gunung, bahkan di penjara. Doa yang benar naik kepada Bapa karena akses yang dibuka oleh Kristus, bukan karena manusia berada di bangunan tertentu.

5. Mengapa banyak pengajar keliru dalam hal ini?

Sering kali karena tiga hal. Pertama, mereka mencampur bahasa Bait Allah dalam Perjanjian Lama dengan gedung gereja masa kini. Kedua, mereka menyakralkan tempat pertemuan, padahal Perjanjian Baru menyakralkan umat. Ketiga, mereka menekankan institusi melebihi karya Kristus. Akibatnya, ajakan untuk berkumpul berubah seolah-olah menjadi ajaran bahwa Allah hanya dapat ditemui di gedung tertentu—padahal itu bukan ajaran Kitab Suci (Ibrani 10:19, 25; Matius 18:20).

“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” — Matius 18:20

Kesimpulan: Umat Kudus, Bukan Tembok Kudus

Dalam Perjanjian Lama ada rumah kudus tempat umat datang. Dalam Perjanjian Baru ada umat kudus yang menjadi tempat kediaman Allah. Gedung gereja dapat menjadi tempat yang baik dan indah untuk berkumpul, tetapi ibadah dan doa sejati tidak dibatasi olehnya. Melalui Kristus, kita datang dengan penuh keberanian kepada Bapa; dan di mana pun umat-Nya berdoa dalam Roh dan kebenaran, di situlah ibadah yang sejati berlangsung.