Kacamatanya Tuhan
Kembali

Mari Belajar Studi 53

Dua Kuasa di Surga: Satu Tuhan, tetapi apakah hanya satu pribadi?

Alkitab dengan tegas mengajarkan bahwa Tuhan itu esa. Namun apakah keesaan Tuhan otomatis berarti hanya satu pribadi? Studi ini menelusuri pola dalam Perjanjian Lama dan bagaimana Perjanjian Baru menjelaskan hubungan Bapa dan Anak di dalam identitas Tuhan yang esa.

Mulai membaca
01 Lembar studi 1
Lembar studi 1: Dua Kuasa di Surga: Satu Tuhan, tetapi apakah hanya satu pribadi?
02 Lembar studi 2
Lembar studi 2: Dua Kuasa di Surga: Satu Tuhan, tetapi apakah hanya satu pribadi?

Penjelasan

Ulangan 6:4 menegaskan bahwa TUHAN itu esa. Yesaya 44:24 juga menyatakan bahwa YHWH membentangkan langit dan menghamparkan bumi. Namun pertanyaan yang perlu diuji dari seluruh kesaksian Kitab Suci adalah: apakah “Tuhan itu satu” otomatis berarti “Tuhan hanya satu pribadi”?

Perjanjian Lama berulang kali memperlihatkan pembedaan dalam narasi ilahi:

  • YHWH dari YHWH — Kejadian 19:24
  • Utusan YHWH yang berbicara sebagai YHWH — Keluaran 3:2–6
  • “Akulah Allah di Betel” — Kejadian 31:11–13
  • Tuhan dan Sang Penebus — Yesaya 48:15–16
  • “YHWH berfirman kepada Tuanku” — Mazmur 110:1
  • Anak Manusia di awan — Daniel 7:13–14
  • Malaikat YHWH kepada Gideon — Hakim-hakim 6:11–24

Perjanjian Baru menjelaskan pola itu dengan lebih terang. Firman itu adalah Allah dan menjadi manusia (Yohanes 1:1, 14, 18). Teks-teks tentang YHWH diterapkan kepada Yesus (Yesaya 40:3; Markus 1:2–3; Yoel 2:32; Roma 10:9–13). Yesus melakukan karya Tuhan dan menerima penghormatan ilahi (Kolose 1:16–17; Ibrani 1:6, 8–12; Filipi 2:9–11; Wahyu 5).

Pada saat yang sama, Bapa dan Anak tetap dibedakan. Anak datang dari Bapa, diutus oleh Bapa, menyatakan Bapa, melakukan pekerjaan Bapa, dan tunduk kepada Bapa (Yohanes 14:28; Yohanes 5:26; 1 Korintus 15:24–28).

Kitab Suci tidak memperkenalkan dua Tuhan. Namun Kitab Suci juga tidak mengizinkan kita mereduksi keesaan Tuhan menjadi satu pribadi saja. Bapa dan Anak sungguh dibedakan, tetapi Perjanjian Baru memasukkan Sang Anak ke dalam karya, kehormatan, nama, dan identitas yang dimiliki YHWH.

Kesimpulannya: Tuhan itu esa. Bapa dan Anak dibedakan, dan Sang Anak tetap memiliki identitas ilahi. Keesaan Tuhan tidak harus berarti hanya satu pribadi—satu Tuhan, dengan pembedaan antara Bapa dan Anak.

“Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” — 1 Korintus 8:6