Kacamatanya Tuhan
Kembali

Mari Belajar Studi 55

Bukan Soal 10%: Memahami Hati di Balik Persepuluhan

Sebagian gereja, pengkhotbah, dan pengajar Alkitab berkata bahwa setiap orang percaya wajib memberi 10% dari penghasilannya ke gereja, dan bila tidak, ia berada di bawah kutuk Maleakhi. Namun apakah itu benar-benar hati Tuhan? Alkitab mengajak kita melihat lebih dalam: bukan sekadar angka 10%, melainkan siapa Pemilik segala sesuatu dan bagaimana kita mengelola milik-Nya dengan setia.

Mulai membaca
01 Lembar studi 1
Lembar studi 1: Bukan Soal 10%: Memahami Hati di Balik Persepuluhan

Penjelasan

“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” — Mazmur 24:1

Pertanyaan utamanya adalah: apakah persepuluhan merupakan kewajiban hukum 10% yang harus diberikan kepada gereja, atau latihan hati untuk menghormati Tuhan dan mengelola milik-Nya?

1. Tuhan adalah Pemilik, kita adalah pengelola

Segala yang kita miliki berasal dari Tuhan. Memberi kepada-Nya bukan berarti Tuhan kekurangan sesuatu, melainkan pengakuan bahwa hidup, waktu, kemampuan, dan uang kita adalah milik-Nya. Persepuluhan pertama-tama berbicara tentang hati yang menghormati Tuhan, bukan soal angka semata (Mazmur 24:1; 1 Tawarikh 29:14; Amsal 3:9).

2. Persepuluhan dalam Perjanjian Lama lebih luas daripada yang sering diajarkan

Di bawah Taurat, persepuluhan berkaitan dengan hasil tanah, orang Lewi, ibadah, perayaan, dan pemeliharaan mereka yang membutuhkan. Jadi persepuluhan Alkitab bukan sekadar “10% gaji masuk ke rekening gereja.” Di dalamnya ada unsur penyembahan, sukacita, pelayanan, dan kepedulian sosial (Imamat 27:30; Bilangan 18:21–24; Ulangan 14:22–29).

3. Perjanjian Baru tidak menetapkan hukum wajib 10%

Yesus memang menyebut persepuluhan kepada orang-orang yang masih hidup di bawah Taurat. Namun setelah salib, para rasul mengajar jemaat untuk memberi dengan teratur, proporsional, dan rela—bukan karena paksaan. Karena itu, ancaman kutuk Maleakhi tidak boleh dipakai untuk menakut-nakuti jemaat Kristus (Matius 23:23; 1 Korintus 16:2; 2 Korintus 9:7; Galatia 3:13).

4. Persepuluhan tetap berguna sebagai disiplin rohani

Walaupun bukan kewajiban hukum, menyisihkan bagian secara teratur dapat menjadi latihan hati yang baik. Seperti puasa melatih kita menolak hawa nafsu, memberi secara teratur melatih kita menolak keserakahan. Dengan mempersembahkan bagian pertama kepada Tuhan, kita belajar bahwa uang bukan tuan kita (Matius 6:24; 2 Korintus 8:3; 2 Korintus 9:7).

5. Pemberian dapat dipakai untuk banyak tujuan yang alkitabiah

Pemberian dapat mendukung gereja lokal atau pelayanan, menolong mereka yang mengajar Firman, merawat orang tua dan keluarga, membantu orang miskin, serta membangun persekutuan dan hospitalitas. Semua itu baik bila dilakukan dengan kasih, hikmat, dan kerelaan hati—bukan karena tekanan atau paksaan (Galatia 6:6; 1 Timotius 5:4, 8; Roma 12:13; Galatia 2:10).

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan...” — 2 Korintus 9:7

Kesimpulan: Bukan Soal 10%, tetapi Soal Hati

Orang Kristen tidak hidup di bawah kewajiban hukum 10% seperti di bawah Taurat. Namun prinsip memberi tetap hidup: Tuhan layak menerima yang pertama dan terbaik. Karena semuanya milik Tuhan, kita dapat memakai persepuluhan sebagai disiplin yang menolong kita menghormati-Nya, melawan keserakahan, dan memberkati orang lain. Dukunglah gereja lokal atau pelayanan, tolonglah keluarga dan mereka yang membutuhkan, dan lakukan semuanya dengan sukacita—bukan karena takut kutuk, melainkan karena mengasihi Sang Pemilik segala sesuatu.