Sebuah pertanyaan yang mungkin sulit diucapkan
Mungkin pertanyaan ini muncul setelah sesuatu yang menyakitkan.
Setelah kesalahan yang terus terbayang.
Setelah doa yang terasa tidak dijawab.
Setelah hidup berubah begitu berat.
Atau ketika rasa malu membuatmu ingin bersembunyi.
Alkitab tidak meminta kita pura-pura kuat. Namun jawaban atas pertanyaan ini tidak dimulai dari perasaan kita atau catatan kebaikan kita. Jawabannya dimulai dari karakter Tuhan.
Ringkasan perjalanan
Jalan pulang masih terbuka.
Salib
Dia mengasihi ketika kita masih berdosa.
Bapa yang menyambut
Dia memanggil kita pulang.
Koreksi
Disiplin bukan penolakan.
Janji Kristus
Orang yang datang tidak akan dibuang.
Kasih yang mendahului
Kasih Tuhan tidak bergantung pada kelayakan kita.
Kita sering mengira Tuhan akan mengasihi kita jika kita cukup baik, cukup taat, atau berhasil memperbaiki semua kesalahan. Tetapi Injil membalik urutan itu. Kristus tidak menunggu sampai kita layak untuk datang menolong.
“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”
Roma 5:8 · TB
Salib bukan hadiah bagi orang yang sudah berhasil menyelamatkan dirinya. Salib adalah tindakan kasih Allah bagi manusia yang tidak sanggup menyelamatkan dirinya sendiri. Karena itu, kegagalanmu tidak pernah lebih besar daripada kasih yang lebih dahulu mencari dan menyelamatkan.
Hati Bapa
Bahkan ketika kita menjauh, hati-Nya memanggil pulang.
Yesus menceritakan seorang anak yang meninggalkan bapanya, menghabiskan semua yang dimilikinya, lalu pulang tanpa apa pun untuk dibanggakan. Yang menunggunya bukan pintu terkunci.
“Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.”
Lukas 15:20 · TB
Sang ayah melihat, berlari, merangkul, dan menerima. Perumpamaan itu tidak mengatakan bahwa dosa tidak penting; dosa telah merusak dan menjauhkan. Namun belas kasih sang bapa lebih cepat bergerak daripada pidato pembelaan sang anak.
Kasih yang membentuk
Koreksi tidak sama dengan penolakan.
Kasih Tuhan bukan sikap acuh yang membiarkan kita tetap diperbudak oleh dosa. Kasih-Nya kudus. Karena itu Dia menegur, membongkar kebohongan yang kita percayai, dan memimpin kita meninggalkan jalan yang merusak.
“Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya.”
Ibrani 12:6 · TB
Penolakan berkata, “Pergilah; aku tidak menginginkanmu.” Koreksi seorang Bapa berkata, “Kamu adalah milik-Ku; karena itu Aku tidak akan membiarkanmu hancur di jalan ini.” Teguran Tuhan bisa menyakitkan, tetapi tujuannya adalah pemulihan, bukan pembuangan.
Ketika Tuhan terasa jauh
Perasaan jauh bukan bukti bahwa Tuhan telah meninggalkan.
Alkitab memberi ruang bagi ratapan. Daud sendiri berdoa dengan kata-kata yang mungkin terasa sangat dekat dengan keadaan kita.
“Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?”
Mazmur 13:2 · TB
Perasaanmu nyata, tetapi perasaan bukan satu-satunya saksi tentang kenyataan. Awan dapat menutupi matahari tanpa memadamkannya. Demikian pula kesedihan, kelelahan, atau rasa bersalah dapat menutupi pandangan kita tanpa menghapus kesetiaan Tuhan.
Di saat seperti itu, kita tidak perlu menyangkal rasa sakit. Kita dapat membawanya kepada Tuhan sambil membiarkan Firman-Nya mengatakan apa yang belum sanggup kita rasakan.
Dasar kepastian
Lihat kembali salib dan dengarkan janji Kristus.
Pada akhirnya, kepastian kasih Tuhan tidak berdiri di atas kekuatan emosi kita, melainkan di atas karya Kristus yang sudah selesai dan perkataan-Nya yang dapat dipercaya.
“Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.”
Yohanes 6:37 · TB
Datanglah bahkan jika doamu hanya berupa air mata. Datanglah ketika kamu belum tahu harus berkata apa. Datanglah dengan dosa yang perlu diakui, ketakutan yang perlu diserahkan, dan luka yang perlu dipulihkan.
Tidak ada kuasa, masa, keadaan, atau makhluk apa pun yang sanggup memisahkan orang yang ada di dalam Kristus dari kasih Allah.

