Kacamatanya Tuhan
Kembali
Dua orang berjalan bersama melewati lembah setelah badai

Penderitaan 8 menit baca

Mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan?

Alkitab tidak memberi satu alasan sederhana bagi setiap luka. Tetapi Alkitab menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: siapa Tuhan ketika kita sedang menderita.

Mari melihat Firman

Ketika pertanyaan menjadi sangat pribadi

Sering kali kita tidak sedang meminta teori. Kita sedang bertanya mengapa Tuhan tidak menghentikannya.

Ketika seseorang yang kita kasihi pergi.

Ketika tubuh sakit dan doa terasa sunyi.

Ketika kita diperlakukan tidak adil.

Ketika hidup runtuh tanpa alasan yang kita mengerti.

Alkitab tidak mengecilkan rasa sakit itu dan tidak memaksa kita berpura-pura mengerti. Ia mengizinkan kita meratap, bertanya, dan menangis—sambil mengarahkan mata kita kepada Tuhan yang tidak tinggal jauh dari penderitaan manusia.

Empat kepastian di dalam lembah

Kita mungkin belum mengerti mengapa. Tetapi kita tidak berjalan sendirian.

01

Dunia belum pulih

Penderitaan adalah kenyataan dunia yang rusak.

02

Tidak selalu hukuman

Kita tidak selalu mengetahui penyebabnya.

03

Kristus hadir

Dia masuk, menangis, dan menderita bersama kita.

04

Bukan akhir cerita

Tuhan akan menghapus setiap air mata.

01

Dunia yang mengeluh

Dunia ini belum menjadi sebagaimana seharusnya.

Dosa tidak hanya menghasilkan pilihan-pilihan jahat. Seluruh ciptaan ikut mengalami kerusakan. Tubuh menjadi sakit, manusia melukai sesamanya, bencana terjadi, dan kematian memisahkan kita dari orang yang kita kasihi.

“Sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.”

Roma 8:22 · TB

Ini juga berarti bahwa tidak setiap penderitaan merupakan hukuman atas dosa tertentu. Dalam Yohanes 9, Yesus menolak kesimpulan murid-murid-Nya bahwa kebutaan seseorang pasti disebabkan oleh dosanya atau dosa orang tuanya. Kitab Ayub memperingatkan hal yang sama: kita dapat melukai orang yang sedang menderita ketika kita terlalu cepat merasa tahu penyebabnya.

02

Batas pengertian kita

Alkitab tidak menjelaskan alasan di balik setiap penderitaan.

Ayub bertanya kepada Tuhan, tetapi ia tidak menerima uraian lengkap tentang apa yang terjadi di balik layar. Ia diingatkan bahwa manusia melihat bagian yang sangat kecil dari kenyataan, sedangkan Tuhan melihat seluruh cerita.

“Sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar.”

1 Korintus 13:12 · TB

Kerendahan hati ini bukan alasan untuk bersikap pasif terhadap kejahatan. Kita tetap dipanggil melindungi yang lemah, mengusahakan keadilan, mengobati yang sakit, dan menolong yang terluka. Namun ketika alasan akhirnya masih tersembunyi, ketidakmampuan kita memahami bukanlah bukti bahwa Tuhan telah kehilangan kendali atau berhenti peduli.

03

Tuhan yang menangis

Yesus tidak mengamati penderitaan kita dari kejauhan.

Ketika Lazarus meninggal, Yesus tahu bahwa sebentar lagi kubur itu akan terbuka. Namun ketika Dia melihat Maria dan orang-orang di sekitarnya menangis, Dia tidak memberi mereka kuliah singkat tentang rencana Allah.

“Maka menangislah Yesus.”

Yohanes 11:35 · TB

Dua kata itu memperlihatkan hati Tuhan. Kristus pernah ditolak, dikhianati, difitnah, dipukul, ditinggalkan, dan akhirnya disalibkan. Dia tidak menyelamatkan manusia dari jarak yang aman. Di dalam Yesus, Tuhan sendiri masuk ke dalam penderitaan manusia—dan melalui kebangkitan-Nya, mulai menghancurkan kuasa dosa dan kematian dari dalam.

04

Kedaulatan yang menebus

Tuhan dapat membawa kebaikan tanpa menyebut kejahatan sebagai kebaikan.

Saudara-saudara Yusuf menjualnya sebagai budak. Tindakan itu tetap jahat. Namun kejahatan mereka tidak sanggup menggagalkan maksud Allah untuk memelihara kehidupan.

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.”

Kejadian 50:20 · TB

Salib adalah gambaran terbesarnya. Pengkhianatan, fitnah, dan penyaliban Yesus adalah kejahatan manusia; tetapi melalui peristiwa yang sama, Allah membuka jalan keselamatan. Ini tidak berarti setiap luka akan segera menghasilkan pelajaran yang dapat kita sebutkan. Artinya, kejahatan tidak pernah memperoleh hak untuk menulis akhir cerita.

Harapan yang berhati-hati

Kita tidak perlu menyebut rasa sakit itu baik untuk percaya bahwa Tuhan masih dapat bekerja di tengahnya.

05

Kehadiran di dalam lembah

Janji Tuhan bukan bahwa kita tidak pernah masuk lembah, tetapi bahwa Dia beserta kita.

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”

Mazmur 23:4 · TB

Ada hari ketika penderitaan terlalu berat dan kita tidak tahu bagaimana harus berdoa. Roma 8:26 mengatakan bahwa Roh menolong kelemahan kita dan berdoa bagi kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Tuhan tidak meminta kita kembali ketika doa sudah tersusun rapi. Bahkan tangisan tanpa kata pun diketahui-Nya.

Jika penderitaanmu berasal dari kekerasan atau ancaman, mencari tempat aman bukanlah kurang beriman.

Hubungi orang yang dapat dipercaya, tenaga profesional, atau pihak berwenang setempat. Meminta pertolongan dapat menjadi salah satu cara Tuhan memeliharamu.

06

Akhir yang dijanjikan

Penderitaan tidak akan mempunyai kata terakhir.

Alkitab tidak berakhir dengan manusia belajar hidup bersama penderitaan untuk selama-lamanya. Ia berakhir dengan Tuhan datang memperbarui ciptaan dan menghapus apa yang selama ini merusak kehidupan.

“Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi.”

Wahyu 21:4 · TB

Yesus berkata bahwa di dunia kita akan mengalami penderitaan, tetapi Dia juga berkata, “Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33). Bagi orang yang ada di dalam Kristus, penderitaan mungkin masih menjadi bagian dari cerita—tetapi tidak pernah menjadi akhir cerita.

Respons

Ketika kita tidak memahami tangan Tuhan, kita masih dapat mempercayai hati-Nya.

Hati-Nya paling jelas terlihat pada Yesus: Tuhan tidak menjawab seluruh persoalan penderitaan dengan sebuah penjelasan, tetapi dengan datang, menderita bersama kita, dan bangkit.

Doa di dalam lembah

“Tuhan, aku tidak mengerti mengapa ini terjadi. Tolong aku membawa rasa sakit ini kepada-Mu. Pegang aku ketika imanku lemah, dan nyatakan kehadiran-Mu selangkah demi selangkah.”

Aku mungkin belum mengerti mengapa.
Tetapi aku tahu aku tidak berjalan sendirian.

Kenali hati Tuhan